Archive for September 4th, 2008

iritasi mata

sakit mata sih

wew, begitu merah dan berbelek perih pula. tersiksa saya. ndak bisa kemana-mana, dirumah mulu membosankan.

mungkin semua ini terjadi gara2 2 minggu ini saya pake helm tanpa kaca. di SBY akhir2 ini entah kenapa lg musim debu yak?? mungkin gr2 sering dicolok-colok sama debu jalanan mata saya ngambek, sekarang buang kotoran berlebihan.

ini aja ngetik sambil menitikkan air mata (gitu ya masi dilanjutin, ndak istirahat aja—efek bosen sih)

obat apa yg mujarab yak???

KULIAH PERTAMA(setelah vakum 2taon) part 3

Yak, mari kita lanjutkan ke Listening

pertama-tama, kita harus membedakan antara Listening & Hearing. sayangnya di Indonesia arti untuk kedua kata tersebut sama, yaitu mendengarkan. seharusnya beda antara kedua kata tersebut adalah :

Hearing: hanya sekedar mendengar suara secara sekilas tanpa proses pemahaman. contohnya adalah setiap hari kita mendengar banyak suara (tukang baso, kucing ngeong dikejauhan, dll)

Listening. sedangkan arti untuk kata ini adalah mendengarkan disertai pemahaman terhadap apa yg didengarkan. contoh: teman curhat pada kita, maka proses yg terjadi adalah kita melakukan Listening, kita mendengarkan dosen mengajar dan lainnya.

Nah, dalam topik ini kita diharuskan untuk belajar Active Listening — yaitu mendengarkan secara penuh dan akurat. Jadi sebagai konselor yang baik kita harus berusaha untuk selalu mendengarkan cerita Klien.

Beberapa contoh Inadequate Listening (proses Listening yg tdk baek) :

  1. Non-Listening = ndak ndengerin blas!!
  2. Partial Listening = hanya ndengerin bagian2 yg menurut konselor penting (tdk bs menangkap makna secara utuh)
  3. Tape-recorder Listening = Terlalu sibuk mencatat apa yg dikatakan klien
  4. Rehearsing = pada saat klien bercerita konselor sibuk memikirkan apa yg akan dikomentari

Mengapa Inadequate Listening bisa terjadi, beberapa faktor yg mempengaruhi adalah:

  • Ketertarikan konselor thd klien — karena klien cantik ato ganteng jd ndak konsen
  • Kondisi fisik konselor — mungkin konselor lagi sakit
  • Maslah pribadi konselor — konselor juga manusia, bisa punya masalah seperti orang laen
  • sikap tanggap berlebihan — sok perhatian, pengen kliatan aktif (lebay lah)
  • kemiripan masalah — konselor pernah mempunyai masalah sama dengan klien jdnya kurang objektif
  • perbedaan — Latar belakang budaya, usia, ekonomi, dll

Setelah tahu apa itu Inadequate Listening, mari kita beralih ke proses yang dianjurkan, tetapi sebelumnya harus diingat tahapan proses konseling adalah dengan membentuk sikap tubuh dulu PnV, memperhatikan PnV klien, lalu membuat klien nyaman, setelah itu Active Listening kita buat ke ON.

Active Listening seperti apa yang baik? tentunya yang bersifat Empati bukannya simpati. weks!! apa bedanya? bedanya adalah klo simpati itu ikut larut dalam emosi (klo klien nangis kita ikut nangis, klo marah ikut marah), sedangkan klo empati itu memahami secara objektif tanpa kehilangan perasaan (jadi memahami cerita klien dengan perasaan yg terkontrol dan natural bukan kaku)

Lalu setelah kita mampu melakukan hal2 tersebut, apa sih yang perlu didengarkan dari cerita klien???

Yang pasti adalah pesan verbal yang berupa cerita klien, sudut pandang klien, keputusan2 klien, rencana tindakan klien, sumber daya dan kemungkinan klien.

Dari cerita klien, ada 3 kategori yg bisa dipilah. yaitu pengalaman, perilaku dan perasaan klien.

  • Pengalaman — apa yg terjadi padanya dan diluar kendali. contoh external: “istri saya tidak pernah memahami saya”, contoh internal: “saya tidak bisa berhenti memikirkan dia”.
  • Perilaku — apa yang ia lakukan/gagal/tidak dilakukan. contoh external :”ketika dia memaki saya, saya balas memakinya”. Contoh internal: “ketika dia mengabaikan saya, saya memikirkan cara untuk membalasnya”.
  • Perasaan — emosi dan suasana hati yang terkait dengan pengalaman dan perilaku. contoh external :”saya sering menyesali diri sendiri sejak ia pergi meninggalkan saya”. contoh internal: “saya sering merasa bersalah setelah bertengkar dngan suami saya”

Selain mendengarkan pesan verbal, kita juga perlu memperhatikan pesan nonVerbal karena pesan non Verbal dapat menjelaskan/memodifikasi pesan verbal. beberapa karakter pesan non verbal:

  1. Confirming/Repeating : mengucapkan “ya” sambil mengangguk
  2. Denying/confusing: apa yg dikatakan dan perilaku yg tampak berlawanan (bilang sedih tapi senyamsenyum)
  3. Strengthening/emphasizing/adding intensity : suara yg meninggi ketika marah
  4. Controling/regulating: mengaturarah percakapan.

setelah kita paham apa itu Listening. Kita dapat menemukan hal2 penting dalam proses ini, yaitu menemukan pesan dan perasaan utama, menemukan adanya kesenjangan, distorsi & disonansi yg terjadi pd klien, menemukan hal penting yang hilang dari cerita klien, lalu kita dapat memperhatikan ke konteks yg lebih luas.

TERAKHIR.

bentuk2 distorded Listening

  1. Filtered Listening : hanya mengambil info penting menurut konselor (dpt menimbulkan bias)
  2. Evaluative Listening : banyak penilaian yg muncul — dengan resiko implikasi memberi nasihat
  3. Stereotyped-based listening : mirip dg Labeling/kategorisasi pada klien (kynya klienku ini termasuk golongan koruptor deh)
  4. Fact-centered : hanya mengumpulkan fakta tentang klien bukannya memahami klien
  5. Sympathetic Listening : uda ndak pake empati lagi
  6. Interrupting : terlalu bersemangat menanggapi — mengganggu proses cerita

SELESAAAIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

fyuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhh, kriting jariku coy!

yak, itulah apa yg saya dapet pada kuliah kmaren. moga2 klo ada yg baca ini bisa bermanfaat. wwkwkwkwk

— pesan hari ini. CURHAT itu bisa jadi runyam klo kita pake perasaan simpati aja lho, jd siapa yg punya profesi tempat curhat mungkin bs menerapkan metode diatas ^_^ —

KULIAH PERTAMA(setelah vakum 2taon) part 2

masi berkaitan dengan kuliah pertama saya, saya ingin sharing sedikit tentang apa yg diajarkan dalam pertemuan kmaren. Tujuan saya menulis ini tidak lain karena ingin membagi ilmu kepada siapapun yg membaca ini dan jg membuat saya semakin paham –wkwkwkwkwk, aslinya ndak ada bahan bwt nulis—-

GARIS BESAR MATERI

Ehm…… karena mata kuliah ini psikologi konseling, maka yg dibahas kali ini mengenai ATTENDING & LISTENING, dua hal ini termasuk dalam basic communication skill.

Attending adalah mengarahkan diri/mengorientasikan diri pada klien. jadi memberi perhatian baik secara fisik maupun psikologis kepada klien.

dalam Attending ini dibahas tentang perilaku non-verbal (selanjutnya disebut PnV). yg termasuk dlm PnV adalah sikap&gerakan tubuh, perilaku mata, ekspresi wajah, suara, dll. fungsi dari PnV ini antara lain 1.mengatur pembicaraan (dalam percakapan, jika salah seorang , 2.mengkomunikasikan emosi (marah disertai ekspresi seram), 3.memodifikasi pesan2 verbal , dll

ketrampilan non-verbal yg penting dalam Attending adalah (SOLER)

1. Squarely, sikap tubuh yg menunjukkan keterlibatan dalam percakapan

2. Open, sikapt tubh terbuka, tidak defensif

3. Lean, sikap tubuh fleksibel (condong dan menjauh) — mencerminkan mental yg fleksibel

4. Eye contact, jangan disamakan dengan staring (menatap terus menerus)

5. Relaxed/natural, melakukan gerakan yg nyaman dan alami (tidak kaku dan dipaksakan)

Jadi inti dari Attending adalah, bagaimana kita (sebagai konselor) mampu memposisikan diri sebagai konselor yang menerima, memahami klien dan mengorientasikan diri pada klien. untuk menerima dan memahami klien, langkah awal adalah memperhatikan PnV klien dan mengatur PnV kita agar membuat klien nyaman.

ok, sekian untuk penjelasan Attending selanjutnya tentang Listening


 

September 2008
M T W T F S S
     
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Archives

Recent Comments

Blog Stats

  • 4,379 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.